Siapa sangka ini akan terjadi. Tak ada yang tau, bahkan Kutu teman dekatnya. Setiap hari yang dilakukan hanyalah berjalan mondar mandir tak jelas "kata orang-orang", tapi apa iya? Apa mungkin orang yang kerjanya mondar-mandir tak jelas bisa seperti itu. Kutu akan secara terang-terangan menolak anggapan bahwa temannya adalah pengacara (pengangguran banyak acara).
Seperti suatu saat ketika ada seorang teman Kutu yang mempunyai anggapan jelek tentang temannya, meski tidak secara langsung menepis bahwa anggapan itu salah karena Kutu juga ingin menghargai pendapat orang lain tentang temannya.
Tumo pernah bertanya pada Kutu seperti ini, "Kamu itu kenapa sih Tu, setiap ada orang yang menjelekkan temanmu selalu kamu menolak anggapan itu meski kamu melakukannya secara halus, kan bukan kita yang dianggap seperti itu".
Jawab Kutu pun datar saja, "Sebenarnya, bukan apa-apa Mo, cuma apa mereka itu sudah baik, sudah hebat, sudah tidak pernah berbuat salah, atau sifat manusiawi yang lainnya. Tentu belum kan? Nah, dari pada memikirkan dan mencari atau membicarakan orang lain apa tidak lebih baik mengaca dan mengukur seperti apa diri kita sendiri. Aku tidak sombong lho Mo, cuma aku itu agak risih. Mudah sekali mereka menilai dan menghakimi, apa lagi jika sampai mereka membuat pengaruh buruk bagi yang mendengar sehingga mereka tidak suka atau benci pada orang yang sedang dibicarakan itu, itu kan termasuk pencemaran nama baik Mo".
"Hmm.. iya ya, bener juga kamu Tu. Terus bagaimana supaya mereka dan kita bisa menjadi tidak lagi melakukan membicarakan atau menjelekkan orang Tu?". Tanggap Tumo.
"Nah, itu dia Mo masalahnya. Aku juga masih berusaha untuk meninggalkan, jadi jujur saja aku belum tau bagaimana tepatnya cara untuk menjauhi itu. Kita ini kan mahluk sosial Mo, mau tidak mau harus mau bergaul dengan sesama mahluk sosial yaitu tetangga, teman sekelas, masyarakat, dan lain sebagainya yang pada dasarnya masih menjadi hal yang dianggap umum dan wajar membicarakan orang lain. Memang pusing Mo, tapi ya mari berusaha untuk sedikit demi sedikit meninggalkan kebiasaan itu Mo". Keluh Kutu mengakhiri penjelasannya.
"Wahh.. memang kamu itu seperti orang bijak Tu, bangga aku punya teman seperti kamu,".
"Ahh.. biasa saja Mo, yang penting mari berusah menjadi lebih baik, toh kita juga yang nanti menuai untung. Kita yang menanam ya nantinya kan kita juga yang memanen".
Aku, Kamu Tidak Sempurna
Jumat, 25 November 2011 Catur Darmadi Janyanto Cerita
Di Buka
Diberdayakan oleh Blogger.
Mengenai Saya
Blogger templates
Blogger templates
Popular Posts
-
Hari yang melelahkan karena pekerjaan yang melelahkan, untung saja semua selesai tepat waktu dan tidak ada komplain dari konsumen jika ada m...
Lupa Ingatan