Maret 2011

Jalan Kecil Untuk Dia

Selasa, 22 Maret 2011 Catur Darmadi Janyanto

Satu hari kaki melangkah tanpa tujuan yang pasti. Kemudian tersandung batu yang tergeletak dijalan, bukan sebuah kesengajaan malainkan sebuah kecelakaan yang terjadi karena ketidak hati-hatian ketika melangkah, atau karena sembrono kemaudian kaki tersandung. Darah bercucuran keluar dari kuku jari kaki yang terkelupas, dia hanya menahan rasa sakit yang belum juga reda meski sudah diberi tetesan air dari perasan daun Rayutan, salah satu obat tradisional untuk menghentikan aliran darah akibat luka dan menghindari infeksi.

Dia masih duduk dipingir jalan, diatas jembatan kecil yang menjebati sungai kecil pula. Terliha ia masih saja meremas-remas daun Rayutan yang tadi didapatnya dari pingir jembatan kecil itu. Jari kakinya masih saja dielus-elus sambil sesekali ditiup, mungkin untuk sedikit mengurangi rasa perih akibat tetesan daun Rayutan.

Lihat lah, kaki hitam yang tak bersandal itu berdarah, mungkin bukan keinginanya ia tak bersandal, tapi mungkin lebih karena tak ada uang untuk membeli atau mungkin sandalnya hilang ketika tadi solat dimasjid kampung ini.

Orang itu masih saja duduk di jembatan kecil itu, sekarang guratan diwajahnya sudah tak menunjukan rasa sakit, mungkin rasa perih yang dihasilkan oleh luka itu sudah mulai menghilang atau mungkin karena sudah mulai terbiasa dengan perihnya tadi. Ah.. entah lah, apakah dia merasa lebih baik atau merasa lebih baik karena terbiasa.

Jalan kecil itu menjadi bukti, darah yang menetes dari kuku yang terkelupas, dan keringat yang menetes dari badannya menjadi saksi kerasnya hidup ini. Orang kecil yang berjalan dijalan kecil di kota besar dengan kulit hitamnya menambah kontras kehidupan kota. Kota yang katanya banyak tempat bekerja dan kota yang katanya tempat mencari penghidupan yang lebih baik ternya memang hanya katanya, tetapi yang benar mungkin kota adalah tempat orang yang kaya sekali dan miskin sekali.

Orang kecil itu mulai berdiri, meraih sepedanya, dan siap melanjutkan perjalanan untuk menjajakan barang dagangannya. Dengan kaki yang beralas dia mulai berjalan sambil menuntun sepedanya, selangkah demi selangkah meninggalkan jalan kecil yang mempunyai jembatan kecil itu.

Dia sudah tak terlihat lagi mungkin sudah sampai dijalan kecil lainya, tapi jejaknya masih bisa dilihat. Tetesan darah dari jari kakinya yang terkelupas membekas disepajang jalan kecil itu, mungkin dia sudah mulai terbiasa dengan rasa perihnya, sampai-sampai dia tak merasakan darah di jari kakinya terus menetes.

0

« Previous Posts Next posts »

Di Buka

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Powered by Blogger. Designed by elogi. Converted by Smashing Blogger for LiteThemes.com. Proudly powered by Blogger.