2011

1st late

Sabtu, 03 Desember 2011 Catur Darmadi Janyanto

Hadeehh...
hari ini hari telat pertama kerja hanya setelah beberapa hari masuk kerja. rasa malu, takut, dan sungkan dan juga tidak enak menyebar jadi satu. hmm..
tapi aku berharap ini jadi telat yang pertama dan terakhir!

0

Aku, Kamu Tidak Sempurna

Jumat, 25 November 2011 Catur Darmadi Janyanto

    Siapa sangka ini akan terjadi. Tak ada yang tau, bahkan Kutu teman dekatnya. Setiap hari yang dilakukan hanyalah berjalan mondar mandir tak jelas "kata orang-orang", tapi apa iya? Apa mungkin orang yang kerjanya mondar-mandir tak jelas bisa seperti itu. Kutu akan secara terang-terangan menolak anggapan bahwa temannya adalah pengacara (pengangguran banyak acara).
    Seperti suatu saat ketika ada seorang teman Kutu yang mempunyai anggapan jelek tentang temannya, meski tidak secara langsung menepis bahwa anggapan itu salah karena Kutu juga ingin menghargai pendapat orang lain tentang temannya.
    Tumo pernah bertanya pada Kutu seperti ini, "Kamu itu kenapa sih Tu, setiap ada orang yang menjelekkan temanmu selalu kamu menolak anggapan itu meski kamu melakukannya secara halus, kan bukan kita yang dianggap seperti itu".
    Jawab Kutu pun datar saja, "Sebenarnya, bukan apa-apa Mo, cuma apa mereka itu sudah baik, sudah hebat, sudah tidak pernah berbuat salah, atau sifat manusiawi yang lainnya. Tentu belum kan? Nah, dari pada memikirkan dan mencari atau membicarakan orang lain apa tidak lebih baik mengaca dan mengukur seperti apa diri kita sendiri. Aku tidak sombong lho Mo, cuma aku itu agak risih. Mudah sekali mereka menilai dan menghakimi, apa lagi jika sampai mereka membuat pengaruh buruk bagi yang mendengar sehingga mereka tidak suka atau benci pada orang yang sedang dibicarakan itu, itu kan termasuk pencemaran nama baik Mo".
    "Hmm.. iya ya, bener juga kamu Tu. Terus bagaimana supaya mereka dan kita bisa menjadi tidak lagi melakukan membicarakan atau menjelekkan orang Tu?". Tanggap Tumo.
    "Nah, itu dia Mo masalahnya. Aku juga masih berusaha untuk meninggalkan, jadi jujur saja aku belum tau bagaimana tepatnya cara untuk menjauhi itu. Kita ini kan mahluk sosial Mo, mau tidak mau harus mau bergaul dengan sesama mahluk sosial yaitu tetangga, teman sekelas, masyarakat, dan lain sebagainya yang pada dasarnya masih menjadi hal yang dianggap umum dan wajar membicarakan orang lain. Memang pusing Mo, tapi ya mari berusaha untuk sedikit demi sedikit meninggalkan kebiasaan itu Mo". Keluh Kutu mengakhiri penjelasannya.
    "Wahh.. memang kamu itu seperti orang bijak Tu, bangga aku punya teman seperti kamu,".
    "Ahh.. biasa saja Mo, yang penting mari berusah menjadi lebih baik, toh kita juga yang nanti menuai untung. Kita yang menanam ya nantinya kan kita juga yang memanen".


0

Waiting SMS

Rabu, 05 Oktober 2011 Catur Darmadi Janyanto

.................
.............. sepi.

..


.............
.............

................
... tut tut,, tut..




........ ternyata smsmu..!!

.,.......... :D







0

ah..!

Kamis, 21 April 2011 Catur Darmadi Janyanto

Hari yang melelahkan karena pekerjaan yang melelahkan, untung saja semua selesai tepat waktu dan tidak ada komplain dari konsumen jika ada mungkin aku harus kerja dua kali untuk menyelesaikan satu pesanan. Saat seperti ini akan enak nongkrong di Warung kopi untuk bersantai sebelum pulang ke kontrakan. Seperti biasa, aku memesan kopi kental untuk memudarkan rasa setres dan lelahku setelah seharian bekerja. Aku duduk disudut ruangan menghadap kearah jendela, memperhatikan laju kendaraan yang mulai terlihat sepi, karena malam sudah semakin larut.
"Boleh saya duduk disini?", suara seorang yang membuyarkan lamunanku.
"Oh.. silakan pak", ucapku mempersialakan dia duduk.
"Saya ini bukan penganut agama yang baik, bukan juga angota masyarakat yang taat pada peraturan, dan juga bukan orang yang rajin membela kebenaran", ucapnya membuka obrolan kami.
"Lalu Bapak itu siapa?", tanya ku.
"Saya siapa? Memang kamu tidak tahu siapa saya. Lihatlah baju apa yang kupakai, lihat sepatu hitamku yang mengkilat, lihat rambutku yang tersisir rapi, dan lihatlah kendaraan yang ku gunakan. Sudah paham belum saya ini siapa?".
Aku masih belum paham, dia itu siapa. Dia mengaku bukan penganut agama yang baik, bukan juga angota masyarakat yang taat pada peraturan, dan juga bukan orang yang rajin membela kebenaran. "Siapa ya dia?", aku bergumam.
Kalau dilihat dari penampilanya yang rapi dan kendaraanya yang bagus tentulah dia orang kaya yang penting, karena dijasnya ada simbol garudanya. Apa mungkin dia pejabat, tapi kalau dia pejabat mengapa dia membuat pengakuan seperti itu, sepertinya tidak mungkin kalau seorang pejabat membuat pengakuan seperti itu, yang ada malah menutupinya rapat-rapat supaya tidak ada yang tahu. Lalu kalau dia bukan pejabat siapa dia, perut buncit, rambut rapi, setelan jas yang rapi, sepatu mengkilap, dan kendaraan bagus. Ah.. mungkin dia adalah orang kaya yang penting di kalangan pejabat, karena dia punya bros garuda dijasnya.
Ahh.. aku tak tahu, aku bingung kemana arah pembicaraan bapak ini. Lebih baik aku mengeleng saja.
Aku mengelengkan kepalaku sebagai tanda aku tak tahu dia itu siapa. Tapi dia terdiam dan wajahnya terlihat berubah, entah kenapa diwajahnya terlihat sedekit berkerut, sepertinya dia marah aku tak dapat menjawab. kemudian dia menghela nafas dan menjawab pertanyaan yang tadi diberikan kepadaku.A
"Saya ini pejabat, pejabat negara. Saya ini angota DPR. Masak kamu tidak tahu, saya kan sering muncul di TV, ketika ribut-ribut kasus korupsi di DPR. Kamu tidak pernah nonton TV ya?", Jawabnya.
"Ooo.. Bapak itu yang terkena tuduhan dugaan korupss...".
Suaraku terhenti. Aku keceplosan, aku menengok raut wajah bapak itu dengan rasa panas dingin tak karuan, dan dalam hati aku memarahi diriku sendiri, kok bisa-bisanya sampai keceplosan!. Tapi ternyata diluar dugaanku, dia santai saja bahkan dia menganguk tanda kalau ucapanku benar dan dia juga tersenyum. Lalu kuberanikan saja untuk bertanya, kenapa dia bisa mendapat tuduhan itu.
"Bagaimana ceritanya kok bisa terkena tuduhan itu, pak?", tanyaku.
"Ya.. biasalah masalah birokrasi".
"Oo.. berarti itu cuma isu yang berakahir dengan pembebasan dari tuduhan ya pak".
"Ya.. begitulah kira-kira".
"Memangnya kalau jadi angota DPR itu enak tidak sih pak?".
"Tentu saja enak, lihat saja saya ini. Pakaian bagus, mobil bagus, rumah juga lumayan, dan gaji lumayan besar. Lalu kerjanya juga santai hanya sidang, membuat undang-undang, dan kadang-kadang jalan-jalan keluar negri dengan alasan study banding dan sebagainya, enak kan?", jelasnya panjang lebar dan diakhiri dengan senyum dimulutnya.
Ah.. aku bosan mendengar ucapannya, aku sudah tahu apa kerjanya paling-paling ketika sidang dia tidur atau mungkin nonton film biru dengan laptop atau I-padnya. Seperti kasus kemarin itu.
"Sebenarnya saya saja yang sedang sial", kurang lebih seperti itu kata salah seorang angota DPR yang ketahuan nonton film biru itu. Kok ya ada-ada saja ketika sidang berlangsung menonton film seperti itu, padahal mereka telah membuar UU tentang pornografi. Bukankah mereka seharusnya bertangung jawab untuk tidak menonton film seperti itu, apalagi dia adalah angota DPR yang katanya Angota Dewan Terhormat yang kantornya ada digedung Terhormat pula, apa kata dunia?!!
Mungkin dunia akan berkata, "Dewan Terhormat menonton film biru ditempat Terhormat!!". Di iringi suara tawa terbahak yang bernada mengejek dan merendahkan.
Aku lelah, lelah dengan bapak angota DPR ini dan semua tetek bengek tentang angota DPR. Aku setuju dengan perkataan Alm. Gus Dur, yang kalau tidak salah mengatakan, "Angota DPR itu seperti anak taman kanan-kanak".
"Emm.. maaf pak, saya mau pulang dulu", ucapku pada bapak yang angota DPR itu.
"Oh.. iya, silakan".
Aku beranjak dari tempat duduku dan keluar dari warung kopi menuju sepeda motorku yang telah setia menungguku ditempat parkir.

0

Jalan Kecil Untuk Dia

Selasa, 22 Maret 2011 Catur Darmadi Janyanto

Satu hari kaki melangkah tanpa tujuan yang pasti. Kemudian tersandung batu yang tergeletak dijalan, bukan sebuah kesengajaan malainkan sebuah kecelakaan yang terjadi karena ketidak hati-hatian ketika melangkah, atau karena sembrono kemaudian kaki tersandung. Darah bercucuran keluar dari kuku jari kaki yang terkelupas, dia hanya menahan rasa sakit yang belum juga reda meski sudah diberi tetesan air dari perasan daun Rayutan, salah satu obat tradisional untuk menghentikan aliran darah akibat luka dan menghindari infeksi.

Dia masih duduk dipingir jalan, diatas jembatan kecil yang menjebati sungai kecil pula. Terliha ia masih saja meremas-remas daun Rayutan yang tadi didapatnya dari pingir jembatan kecil itu. Jari kakinya masih saja dielus-elus sambil sesekali ditiup, mungkin untuk sedikit mengurangi rasa perih akibat tetesan daun Rayutan.

Lihat lah, kaki hitam yang tak bersandal itu berdarah, mungkin bukan keinginanya ia tak bersandal, tapi mungkin lebih karena tak ada uang untuk membeli atau mungkin sandalnya hilang ketika tadi solat dimasjid kampung ini.

Orang itu masih saja duduk di jembatan kecil itu, sekarang guratan diwajahnya sudah tak menunjukan rasa sakit, mungkin rasa perih yang dihasilkan oleh luka itu sudah mulai menghilang atau mungkin karena sudah mulai terbiasa dengan perihnya tadi. Ah.. entah lah, apakah dia merasa lebih baik atau merasa lebih baik karena terbiasa.

Jalan kecil itu menjadi bukti, darah yang menetes dari kuku yang terkelupas, dan keringat yang menetes dari badannya menjadi saksi kerasnya hidup ini. Orang kecil yang berjalan dijalan kecil di kota besar dengan kulit hitamnya menambah kontras kehidupan kota. Kota yang katanya banyak tempat bekerja dan kota yang katanya tempat mencari penghidupan yang lebih baik ternya memang hanya katanya, tetapi yang benar mungkin kota adalah tempat orang yang kaya sekali dan miskin sekali.

Orang kecil itu mulai berdiri, meraih sepedanya, dan siap melanjutkan perjalanan untuk menjajakan barang dagangannya. Dengan kaki yang beralas dia mulai berjalan sambil menuntun sepedanya, selangkah demi selangkah meninggalkan jalan kecil yang mempunyai jembatan kecil itu.

Dia sudah tak terlihat lagi mungkin sudah sampai dijalan kecil lainya, tapi jejaknya masih bisa dilihat. Tetesan darah dari jari kakinya yang terkelupas membekas disepajang jalan kecil itu, mungkin dia sudah mulai terbiasa dengan rasa perihnya, sampai-sampai dia tak merasakan darah di jari kakinya terus menetes.

0

« Previous Posts Next posts »

Di Buka

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Powered by Blogger. Designed by elogi. Converted by Smashing Blogger for LiteThemes.com. Proudly powered by Blogger.