ah..!

Kamis, 21 April 2011 Catur Darmadi Janyanto

Hari yang melelahkan karena pekerjaan yang melelahkan, untung saja semua selesai tepat waktu dan tidak ada komplain dari konsumen jika ada mungkin aku harus kerja dua kali untuk menyelesaikan satu pesanan. Saat seperti ini akan enak nongkrong di Warung kopi untuk bersantai sebelum pulang ke kontrakan. Seperti biasa, aku memesan kopi kental untuk memudarkan rasa setres dan lelahku setelah seharian bekerja. Aku duduk disudut ruangan menghadap kearah jendela, memperhatikan laju kendaraan yang mulai terlihat sepi, karena malam sudah semakin larut.
"Boleh saya duduk disini?", suara seorang yang membuyarkan lamunanku.
"Oh.. silakan pak", ucapku mempersialakan dia duduk.
"Saya ini bukan penganut agama yang baik, bukan juga angota masyarakat yang taat pada peraturan, dan juga bukan orang yang rajin membela kebenaran", ucapnya membuka obrolan kami.
"Lalu Bapak itu siapa?", tanya ku.
"Saya siapa? Memang kamu tidak tahu siapa saya. Lihatlah baju apa yang kupakai, lihat sepatu hitamku yang mengkilat, lihat rambutku yang tersisir rapi, dan lihatlah kendaraan yang ku gunakan. Sudah paham belum saya ini siapa?".
Aku masih belum paham, dia itu siapa. Dia mengaku bukan penganut agama yang baik, bukan juga angota masyarakat yang taat pada peraturan, dan juga bukan orang yang rajin membela kebenaran. "Siapa ya dia?", aku bergumam.
Kalau dilihat dari penampilanya yang rapi dan kendaraanya yang bagus tentulah dia orang kaya yang penting, karena dijasnya ada simbol garudanya. Apa mungkin dia pejabat, tapi kalau dia pejabat mengapa dia membuat pengakuan seperti itu, sepertinya tidak mungkin kalau seorang pejabat membuat pengakuan seperti itu, yang ada malah menutupinya rapat-rapat supaya tidak ada yang tahu. Lalu kalau dia bukan pejabat siapa dia, perut buncit, rambut rapi, setelan jas yang rapi, sepatu mengkilap, dan kendaraan bagus. Ah.. mungkin dia adalah orang kaya yang penting di kalangan pejabat, karena dia punya bros garuda dijasnya.
Ahh.. aku tak tahu, aku bingung kemana arah pembicaraan bapak ini. Lebih baik aku mengeleng saja.
Aku mengelengkan kepalaku sebagai tanda aku tak tahu dia itu siapa. Tapi dia terdiam dan wajahnya terlihat berubah, entah kenapa diwajahnya terlihat sedekit berkerut, sepertinya dia marah aku tak dapat menjawab. kemudian dia menghela nafas dan menjawab pertanyaan yang tadi diberikan kepadaku.A
"Saya ini pejabat, pejabat negara. Saya ini angota DPR. Masak kamu tidak tahu, saya kan sering muncul di TV, ketika ribut-ribut kasus korupsi di DPR. Kamu tidak pernah nonton TV ya?", Jawabnya.
"Ooo.. Bapak itu yang terkena tuduhan dugaan korupss...".
Suaraku terhenti. Aku keceplosan, aku menengok raut wajah bapak itu dengan rasa panas dingin tak karuan, dan dalam hati aku memarahi diriku sendiri, kok bisa-bisanya sampai keceplosan!. Tapi ternyata diluar dugaanku, dia santai saja bahkan dia menganguk tanda kalau ucapanku benar dan dia juga tersenyum. Lalu kuberanikan saja untuk bertanya, kenapa dia bisa mendapat tuduhan itu.
"Bagaimana ceritanya kok bisa terkena tuduhan itu, pak?", tanyaku.
"Ya.. biasalah masalah birokrasi".
"Oo.. berarti itu cuma isu yang berakahir dengan pembebasan dari tuduhan ya pak".
"Ya.. begitulah kira-kira".
"Memangnya kalau jadi angota DPR itu enak tidak sih pak?".
"Tentu saja enak, lihat saja saya ini. Pakaian bagus, mobil bagus, rumah juga lumayan, dan gaji lumayan besar. Lalu kerjanya juga santai hanya sidang, membuat undang-undang, dan kadang-kadang jalan-jalan keluar negri dengan alasan study banding dan sebagainya, enak kan?", jelasnya panjang lebar dan diakhiri dengan senyum dimulutnya.
Ah.. aku bosan mendengar ucapannya, aku sudah tahu apa kerjanya paling-paling ketika sidang dia tidur atau mungkin nonton film biru dengan laptop atau I-padnya. Seperti kasus kemarin itu.
"Sebenarnya saya saja yang sedang sial", kurang lebih seperti itu kata salah seorang angota DPR yang ketahuan nonton film biru itu. Kok ya ada-ada saja ketika sidang berlangsung menonton film seperti itu, padahal mereka telah membuar UU tentang pornografi. Bukankah mereka seharusnya bertangung jawab untuk tidak menonton film seperti itu, apalagi dia adalah angota DPR yang katanya Angota Dewan Terhormat yang kantornya ada digedung Terhormat pula, apa kata dunia?!!
Mungkin dunia akan berkata, "Dewan Terhormat menonton film biru ditempat Terhormat!!". Di iringi suara tawa terbahak yang bernada mengejek dan merendahkan.
Aku lelah, lelah dengan bapak angota DPR ini dan semua tetek bengek tentang angota DPR. Aku setuju dengan perkataan Alm. Gus Dur, yang kalau tidak salah mengatakan, "Angota DPR itu seperti anak taman kanan-kanak".
"Emm.. maaf pak, saya mau pulang dulu", ucapku pada bapak yang angota DPR itu.
"Oh.. iya, silakan".
Aku beranjak dari tempat duduku dan keluar dari warung kopi menuju sepeda motorku yang telah setia menungguku ditempat parkir.

0

« Previous Posts Next posts »

Di Buka

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Powered by Blogger. Designed by elogi. Converted by Smashing Blogger for LiteThemes.com. Proudly powered by Blogger.